Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi meninjau langsung sentra produksi garam di Kelurahan Pallengu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, untuk memastikan program elektrifikasi dan pendampingan berjalan optimal. Langkah ini ditempuh pemerintah provinsi untuk mendongkrak nilai jual garam lokal yang selama ini masih rendah di tingkat petani. Fatmawati menilai intervensi teknologi menjadi kunci agar komoditas ini mampu bersaing di pasar industri.
MAKASSAR — Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi memastikan pengembangan komoditas garam di Kabupaten Jeneponto tidak berhenti pada peningkatan volume produksi, tetapi diarahkan pada penguasaan teknologi dan keterhubungan dengan sektor industri. Hal ini disampaikannya usai meninjau rumah industri garam dan program elektrifikasi bagi petani garam di Kelurahan Pallengu, Kecamatan Bangkala.
Fatmawati mengungkapkan, intervensi pemerintah berupa pemberian membran dan geomembran akan mampu mengubah cara produksi petani garam tradisional menjadi lebih modern. Menurutnya, peningkatan kualitas ini menjadi prasyarat utama agar garam Jeneponto bisa diserap industri dengan harga yang lebih baik.
"Kalau sudah tersentuh dengan kita, kita kasih membran, geomembran, pendampingan, apalagi kalau sudah dikawal ada industrinya, saya yakin dan percaya bahwa itu bisa bernilai lebih lagi untuk peningkatan ekonomi," jelasnya di Makassar, Minggu.
Bupati Jeneponto Paris Yaris menyambut baik langkah pemerintah provinsi tersebut. Ia mengakui daerahnya memiliki potensi garam yang besar, namun selama ini pengelolaannya belum optimal dalam meningkatkan kesejahteraan warga.
"Pemkab Jeneponto fokus mendorong agar pengembangan usaha tidak berhenti pada aktivitas produksi, namun juga diarahkan pada peningkatan kualitas, nilai tambah, dan keberlanjutan usaha," kata Paris Yaris.
Selain meninjau sentra produksi, Wagub Sulsel juga menghadiri kegiatan pelatihan bagi pelaku usaha perempuan di Kabupaten Jeneponto. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal yang dikelola oleh perempuan, sehingga memberikan dampak ganda bagi perekonomian keluarga.
Fatmawati menekankan bahwa pengembangan potensi lokal harus dilakukan secara terpadu. Sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat diperlukan agar manfaat ekonomi dari hilirisasi garam dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat, tidak hanya oleh segelintir petani besar.
Dengan adanya pendampingan teknis dan akses pasar yang lebih luas, pemerintah optimistis produksi garam Jeneponto akan meningkat signifikan. Hal ini sejalan dengan target pemerintah pusat untuk mencapai swasembada garam nasional dan mengurangi ketergantungan impor.