Bunyi "beeeep" bernada tinggi dari microwave telah menjadi teror akustik bagi banyak orang. Sebagian dari kita bahkan rela berlari dari sisi ruangan lain hanya untuk menghentikan hitungan mundur sebelum bunyi itu keluar. Kini, solusi untuk masalah ini datang dari tempat yang tak terduga: dua orang desainer suara yang muak dengan bunyi microwave mereka sendiri.
Joel Corelitz dan Colin Coogan, pendiri Starling, adalah veteran industri audio yang pernah mengerjakan proyek untuk Sony, Microsoft, Netflix, Sega, hingga strategi suara untuk seluruh lini mobil Ford. Namun, proyek paling personal mereka justru berasal dari dapur rumah sendiri.
Hampir semua microwave di dunia menggunakan komponen yang sama untuk menghasilkan bunyi: sebuah piezoelectric buzzer murah yang harganya hanya beberapa sen. Teknologi ini pertama kali dipasarkan massal oleh produsen Jepang pada 1970-an dan sejak itu menghuni berbagai perangkat mulai dari mainan, detektor asap, hingga jam alarm.
Masalahnya, buzzer ini hanya bisa menghasilkan bunyi beep dengan frekuensi dan durasi tertentu. Produsen microwave sebenarnya bisa menggantinya dengan speaker yang mampu memproduksi suara lebih kaya, tetapi biaya tambahan menjadi penghalang utama di tengah persaingan ketat pasar barang elektronik rumah tangga.
Corelitz menemukan bahwa setiap microwave sudah memiliki mikrokontroler dan piezoelectric buzzer di dalamnya. "Mikrokontroler apa pun yang menerima C++ bisa diprogram untuk menghasilkan suara berbeda," katanya. "Yang dibutuhkan hanyalah produsen yang mau memasukkan kode baru ke perangkat mereka."
Dengan software bernama Microwave Sound Bench, Starling menciptakan rangkaian suara alternatif yang sama sekali berbeda dari beep tradisional. Menggunakan Arduino UNO R4 Minima dan beberapa buzzer yang ditempel di papan roti, Corelitz mendemonstrasikan trill dengan durasi super-pendek, sapuan frekuensi yang terdengar seperti benda jatuh di kartun, hingga arpeggio yang lebih cocok untuk video game.
Salah satu trik yang ditemukan Starling adalah memanfaatkan frekuensi resonansi buzzer. "Jika Anda menyapu frekuensi, Anda akan melihat bahwa pada rentang tertentu buzzer terdengar lebih keras karena ia menyukai resonansi itu," jelas Corelitz. "Anda bisa menggunakan frekuensi resonan itu untuk mensimulasikan dinamika." Hasilnya, suara terdengar naik-turun meskipun secara teknis tidak ada perubahan volume.
Starling juga mendesain ulang bunyi saat pengguna menekan tombol microwave. Alih-alih beep keras yang berulang, mereka menciptakan klik lembut premium seperti yang terdengar saat mengetik di ponsel pintar.
Bagi konsumen Indonesia yang terbiasa dengan microwave merek Sharp, Samsung, atau Panasonic, perubahan ini bisa menjadi angin segar. Tanpa perlu membeli perangkat baru, produsen cukup memperbarui firmware melalui pembaruan perangkat lunak — sesuatu yang sudah lazim dilakukan pada perangkat elektronik modern.
Starling saat ini masih dalam tahap demonstrasi konsep, tetapi Corelitz optimistis. "Ini secara teoretis kompatibel dengan hardware apa pun yang ada di microwave," ujarnya. Jika produsen microwave mulai melirik solusi ini, bukan tidak mungkin dapur di rumah-rumah Indonesia akan menjadi tempat yang lebih tenang dalam waktu dekat.